Adanya dinamika dan perkembangan di masyarakat serta kebutuhan transportasiyang sangat variatif, akhirnyadi Kab. Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan tepatnya di Kandangan memunculkan sebuah alternatif baru sarana transportasi yaitu berupa Becak Motor (Bentor).

Bentor ini sebenarnya sudah lama ada di kota-kota lain, seperti Gorontalo, Medan, Aceh, Makasar, Palangkaraya dll. Dalam perjalanannya di satu sisi Bentor ini menjadi solusi masalah alternatif transportasi dan juga masalah alternatif pekerjaan bagi masyarakat, namun di sisi lain juga menjadi permasalahan karena desain bentor tidak sesuai, karena tidak melalui wajib uji tipe Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor Dirjan Perhubungan Dirjen Perhubungan Darat.

Di beberapa daerah yang sudah bermunculan bentor, mengalami kesulitan untuk melegal kan keberadaan bentor. Ada beberapa Aspek yang menimbulkan kesulitan ini, yaitu :Dari segi ukuran dan desain bentor ini dinilai sangat rentan mengalami kecelakaan dan tidak memenuhi standar keamanan bagi penumpang. 

Dan juga menjadi sebab adanya penurunan pemasukan bagi sopir mikrolet, dan becak sehingga menimbulkan kecemburuan karena legalitas bentor yang masih mengambang. Secara desain masyarakat sendiri melakukan modifikasi yang tidak sesuai dengan peruntukan. Mengingat dari segi aero dinamis, betor tidak mendukung sebagai sarana transportasi umum, karena pada kecepatan tertentu sangat mudah terjungkal, tidak memiliki rem depan, dan posisi penumpang berada di depan.

Secara Aspek Legal bentor menghadapi permasalahan :  Tidak memenuhi standar dan etika berlalu lintas sesuai UU No 22 Tahun 2009,  Bertentangan dengan Keputusan Dirjen Perhubungan Darat 1109/AJ.402 /DRJD/2008 tentang Pengesahan Rancang Bangun dan Rekayasa Rumah-rumah (Karoseri) di Landasan Kendaraan Bermotor Roda Tiga untuk Angkutan Penumpang.

Sedangkan dari segi aspek Teknis permasalahan yang ada :  Penumpang berada di depan sementara hanya memiliki rem belakang,  Rawan kecelakaan bagi penumpang saat direm mendadak (penumpang bisa terlempar ke depan), Bentuknya yang lebar hanya disanggah satu pengendali untuk batang setir, bukan angkutan barang apalagi penumpang, dan  Berat maksimum daya angkut motor 100 kg. Sementara berat kosong bentor sudah mencapai 200 kg.

Dengan keluarnya Keputusan Dirjen Perhubungan Darat ini bukan berarti menyelesaikan masalah, karena mayoritas masyarakat menolak merubah desain bentor mereka dengan alasan sudah mengeluarkan dana untuk membuat kerangka bentor yang ada sekarang (Kasus di Kandangan kerangga bentor siap pakai seharga 5 juta ), dan juga desain kerangka yang ditawarkan oleh Dirjen Perhubungan Darat sangatlah mahal harganya, karena harus merubah motor yang awalnya “motor bebek” menjadi “motor laki” dan juga harga kerangka nya juga sangat mahal.
Diberdayakan oleh Blogger.