Standar  Pelayanan Minimal  (SPM).Sesuai  dengan  Peraturan Pemerintah Nomor  65  Tahun  2005,  SPM  adalah  ketentuan mengenai  jenis  dan mutu  pelayanan  dasar yang  merupakan  urusan  wajib  daerah  yang  berhak  diperoleh  setiap  warga  negara  secara minimal, terutama yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Penerapan  SPM  dimaksudkan  untuk  menjamin  akses  dan  mutu  bagi  masyarakat  untuk mendapatkan pelayanan dasar dari pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ukuran-ukuran yang  ditetapkan  oleh  Pemerintah.  Oleh  karena  itu,  baik  dalam  perencanaan  maupun penganggaran, wajib diperhatikan prinsip-prinsip SPM yaitu sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka,  terjangkau  dan  dapat  dipertanggungjawabkan  serta  mempunyai  batas  pencapaian yang dapat diselenggarakan secara bertahap.

Sampai  dengan  saat  ini masih  terjadi  kesenjangan mutu  pelayanan  pendidikan  dasar  antar kabupaten/kota,  antar  sekolah  dengan  sekolah  dan  antar  sekolah  dengan  madrasah. Kesenjangan  dalam  pemenuhan  SPM  pendidikan  dasar  banyak  disebabkan  oleh  berbagai alasan,  misalnya  akibat  perbedaan  kapasitas  SDM,  kesadaran  pemangku  kepentingan, kemampuan  penganggaran,  sarana-prasarana    dan  faktor  geografis.

Standar  Pelayanan  Minimal  Pendidikan  Dasar  (SPM  Dikdas)  adalah salah  satu  tolak  ukur kinerja  pelayanan  pendidikan  dasar.  Sebagaimana  telah  diatur  didalam  Peraturan  Menteri Pendidikan  Nasional  Nomor  15  Tahun  2010  dan  Peraturan  Menteri  Pendidikan  dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013  (Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  15  Tahun  2010)  bahwa  penyelenggaraan  pendidikan  dasar  sesuai  SPM merupakan kewewenangan kabupaten/kota.  Pemerintah Kabupaten/kota wajib melakukan pengembangan kapasitas untuk mencapai SPM, sedangkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan  memfasilitasi  pengembangan  kapasitas  melalui  peningkatan  kemampuan sistem,  kelembagaan,  personil  dan  keuangan,  baik  ditingkat  pusat,  provinsi,  kabupaten/kota dan satuan pendidikan.

Secara  umum,  perkembangan  pembangunan  sektor  pendidikan  di  Indonesia  mengalami kemajuan yang sangat nyata, khususnya perbaikan akses pendidikan dasar dan peningkatan kualitas pelayanannya.Meskipun demikian masih terjadi disparitas yang cukup nyata terhadap pelayanan pendidikan di beberapa kabupaten/kota di  Indonesia.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  dan  Kementerian  Agama  telah  banyak  membantu  kabupaten/kota  untuk mencapai  SPM  Pendidikan  Dasar,  namun  masih  banyak  kabupaten/kota  tertentu  yang memerlukan bantuan teknis lebih intensif.

Uni Eropa  telah menyepakati memberikan  tambahan bantuan dana hibah kepada pemerintah Indonesia untuk penyediaan bantuan  teknis sebesar €37,3  juta bagi Program Pengembangan Kapasitas  Penerapan  Standar  Pelayanan  Minimal  Pendidikan  Dasar  (Program  PKP-SPMDIKDAS)  guna  mengatasi  adanya  kesenjangan  kinerja  di  sektor  pendidikan  dasar dikabupaten/kota.  Uni  Eropa  dan  pemerintah  Indonesia  telah  menunjuk  ADB  (AsianDevelopment  Bank)  untuk  mengelola  bantuan  ini.  Sebagian  besar  dana  hibah  ini  akandiberikan kepada 110 kabupaten/kota yang terpilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.Sebagai bahan acuan pelaksanaan Program PKP-SPM DIKDAS diperlukan adanya panduanyang disebut dengan Panduan Administrasi Program (PAP) atau Project Administration Manual
(PAM). PAP ini merupakan salah satu panduan bagi pengelola dan pelaksana program, baik di tingkat pusat maupun daerah serta tim konsultan yang telah ditunjuk untuk membantu program ini.  Panduan  ini memuat  berbagai  informasi  yang  terkait  dengan  latar  belakang  dan  tujuan program,  tugas dan  tanggung-jawab  instansi  terkait, prosedur perencanaan dan pengelolaan dana,  jenis  kegiatan  yang  dapat  dibiayai  serta mekanisme  pertanggung-jawabannya.

OUTPUT, OUTCOME DAN DAMPAK YANG DIHARAPKAN

Output yang diharapkan Program PKP-SPM DIKDAS ini antara lain:
1. Meningkatnya kapasitas pengelola pendidikan di  tingkat kabupaten/kota dan manajemen di tingkat sekolah/madrasah dalam pencapaian SPM.

2.  Meningkatnya  pengetahuan  dan  kepedulian  masyarakat  (misalnya  Komite Sekolah/Madrasah,  Dewan  Pendidikan  dan  LSM  peduli  pendidikan)  dan  pemangku kepentingan  bidang  pendidikan  terhadap  SPM  sektor  pendidikan,  serta  mendorong partisipasi masyarakat yang lebih besar untuk memastikan bahwa sekolah/madrasah dan pemerintah daerah bertanggung jawab terhadappemenuhan SPM.

3.  Meningkatnya  pengintegrasian  SPM  yang  lebih  efektif  ke  dalam  berbagai  program  dan kebijakan sektor pendidikan terkait.

Outcome yang diharapkan dari program ini adalah menurunnya disparitas antar daerah dalam pelayanan pendidikan dasar.

Dampak yang  diharapkan  dari  Program  PKP-SPM  DIKDAS  ini  adalah  dapat  memberikan kontribusi  terhadap pelaksanaan kebijakan pembangunan  jangka menengah  Indonesia dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan peningkatan daya saing ekonomi di  tingkat  regional maupun  global.  Hasil  yang  diharapkan  dari  program  ini  adalah  dapat  membantu  upaya pemerintah  Indonesia untuk memperkuat sistem pendidikan dan menyelesaikan kesenjangan pelayanan pendidikan antar daerah.

Kabupaten Hss

Diberdayakan oleh Blogger.