Meski jengkol baunya cukup menyengat, tapi di tangan Hj Fatimah, kudapan yang satu ini bisa diolah menjadi satu cemilan yang cukup menggugah rasa.
“Saya berjualan jaring (jengkol) ini sudah sekitar 12 tahun lamanya. Namun, sejak masih kelas 3 SMP sudah memulai membantu ibu berjualan jengkol ini. Keahlian mengolah jengkol ini didapat dari ibunya yang pada saat itu sudah menjadi orangtua tunggal. Karena sejak saya kelas 2 sekolah dasar ditinggal wafat oleh ayah saya,” tutur Hj Fatimah, Rabu (7/5/2014).
Kemudian dalam perjalanan waktu, ternyata usaha membuat kudapan jengkol ini makin berkembang. Para pelanggannya datang dari mana-mana. “Bahkan jengkol buatan saya ini sudah ada yang dibawa hingga ke Mekkah,” ujarnya bangga.
Setiap harinya berjualan jengkol bisa menghabiskan 13 blek atau setara dengan 200 kg. Pembelinya tidak hanya berasal dari Banjarmasin. “Stok jengkol bisa datang dari mana saja. Bahkan jika sedang tidak musim, saya memesannya dari Berau Kaltim. Di sana banyak sekali tumbuh pohon jengkol,” ungkap Ibu beranak dua ini.
Memakan jengkol ini enaknya ditemani santan yang sudah diolah menjadi tahi lala. Jika dulu menggunakan kelapa parut sebagai bahan utama, sekarang sudah bisa digantikan dengan santan olahan jadi. “Selain bisa menghemat waktu, menggunakan santan jadi juga bisa mengurangi ongkos produksi,” ungkapnya.
Di warungnya yang berada di jalan Dahlia 2 Rt 32 No 48 Banjarmasin, Fatimah juga menjual nasi kuning, kue-kue dan juga penganan yang lain. “Keinginan saya sebenarnya ingin membuka rumah makan, tapi karena suami baru saja meninggal kemungkinan keinginan itu akan dibatalkan saja,” pungkasnya. (wln/dha) http://mc-kalsel.info/?p=3456
Diberdayakan oleh Blogger.