Bersama Bapak Totok Agus Daryanto –KadinBudpar HSS– dan Jajarannya
Menurut informasi  dari http://ayopelesiran.com.  Banyak kenangan istimewa yang masih melekat dalam ingatan saya saat mengunjungi Kandangan bersama Indra Pradya, Evi Indrawanto dan Halim Santoso. Bukan hanya sajian kulinernya yang beragam dan lezat, masakan tradisonal terutama ikan-ikan segar yang gurih dan bikin “nagih”, serta sejarah dan peninggalan budaya yang hebat, namun juga budaya dan kearifan lokal yang unik serta keramahtamahan penduduknya. Semua bagai magma potensi wisata daerah yang luar biasa dan siap muncul mewarnai pariwisata Indonesia.

Kandangan bagai sebuah rumah bagi semua orang yang singgah. Dengan keramahan yang tulus, mereka membuka pintu bagi pendatang layaknya sebuah keluarga yang pulang. Kehangatan seperti ini yang kami rasakan sejak pertama menjejakkan kaki di Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di kantor Dinas Pariwisata di Kandangan, Bapak Totok Agus Daryanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Selatan beserta jajarannya, Pak Zulfazar dan rekan-rekan masih berkenan menanti dan menyambut kami dari Banjar Baru dalam suasana kekeluargaan yang kental meski jam kerja telah usai.
Beberapa potensi wisata di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) telah terdengar sejak di Jakarta, terutama tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Namun duduk bersama Pak Totok sore itu, dan mendengar beliau menceritakan banyak hal berkaitan dengan pariwisata, kekaguman saya terhadap kota ini semakin bertambah. Terlebih saat beliau menunjukkan beberapa foto cantik di beberapa tempat yang menjadi obyek wisata di HSS, rasanya kami harus meluangkan banyak waktu untuk menjelajahinya satu persatu.
Beruntung sekali kami disediakan tempat menginap oleh Dinas Pariwisata tepat di tengah kota. Hotel Rakat Mufakat namanya, milik Dinas Pariwisata Kandangan yang letaknya satu lokasi dengan pasar tradisional Kandangan. Hal ini sungguh sebuah kesempatan untuk bisa melihat geliat perekonomian dari dekat dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Bahkan dari balkon kamar yang kami tempati, kami bisa melihat aktivitas warga sore itu dan menikmati semburat keindahan matahari terbenam di sela-sela awan selepas hujan.

Denyut Malam dan Kuliner Kandangan
Ketupat Kandangan, adalah menu wajib yang harus dicicipi. Indra Pradya bahkan sudah menantang kami jauh-jauh hari untuk merasakan sensasi makan ketupat berkuah tanpa sendok alias harus menyuap makanan dengan tangan. Acara makan ketupat ini menjadi istimewa karena Pak Totok beserta keluarga mengajak kami makan malam menikmati Ketupat Kandangan bersama. Ah, sungguh sebuah kehormatan bagi kami. Terimakasih, pak.
Ditemani juga oleh Wahyu –Duta Wisata Hulu Sungai Selatan— kami menikmati Ketupat Kandangan di rumah makan yang konon kabarnya tersohor sampai ke Timur Tengah. Rumah Makan Kaganangan namanya, letaknya di Jalan Jend. Ahmad Yani, Kandangan. Umumnya satu porsi terdiri dari tiga buah ketupat yang dipotong-potong ukuran sedang, ditemani sepotong Ikan Haruang (Ikan Gabus) di Masak Habang (dibakar atau digoreng bersama saus tomat) lalu di siram kuah santan. Rasanya seperti perpaduan antara gurih dan manis, dan bila anda ingin menambahkan rasa pedas, tersedia sambal yang disediakan terpisah.

Masakan Kelezatan dan Sensasi Makan Ketupat Kandangan
           Masakan Kelezatan dan Sensasi Makan Ketupat Kandangan



Meski harus berpikir sejenak sebelum makan, saya toh menyelupkan tangan juga ke dalam piring untuk merasakan sensasi yang diceritakan Indra. Aneh rasanya di awal, namun terbiasa juga di menit-menit berikutnya. Ketupat yang tadinya berupa gumpalan beras tanak akhirnya tercerai berai bagai nasi dalam kuah. Ikan Haruang Bumbu Habang menjadi fokus utama saat makan, ikan yang jarang sekali saya nikmati di Jakarta menjadi menu favorit saya di Kandangan sebagai teman makan ketupat atau sarapan Nasi Kuning.
Dalam keadaan perut masih terasa kenyang seusai makan ketupat, kami diajak oleh Pak Zulfazar untuk singgah di warung penjual penganan khas tak jauh dari hotel untuk bersantai sambil ngopi menikmati suasana malam Kandangan. Sungguh terasa nuansa khas penduduk yang akrab dan senang berbincang. Pertanyaan-pertanyaan kami seputar penganan khas dijawab penuh atensi oleh mereka, sesekali ditingkahi dengan canda ringan.






Ragam Wadai Khas Banjar: Apam Batil, Lopis Hijau, Gumbili dan Papare
Ragam Wadai Khas Banjar: Apam Batil, Lopis Hijau, Gumbili dan Papare
    
Di sini, lidah saya harus beradaptasi segera dengan cita rasa manis yang mendominasi sebagian besar makanan khas Banjar. Kalaupun tidak manis, biasanya wadai –sebutan penduduk lokal untuk kue—di sini dinikmati dengan saus gula merah atau saus gula aren. Nama wadai-wadai ini terasa aneh karena belum pernah terdengar telinga saya. Banyak yang mengandung ulangan suku kata seperti Kukulih, Pupudak, Papare. Ada juga Puracit, Slada Gumbili, Apam Batil, selain nama-nama lain yang sudah akrab di telinga saya seperti Wajik, Lopis atau Serabi.
Urusan makan, bahkan tak terhenti sampai di sini. Sekembalinya kami ke hotel, kami kembali disuguhkan makanan khas Banjar lainnya. Kali ini suguhan berupa Lamang Ketan, lengkap dengan telur asin dan saus kacang. Untunglah malam itu kami berkumpul untuk membicarakan teknis kegiatan besok di Loksado, sehingga masih ada waktu sambil berbincang untuk memberi kesempatan lambung mencerna makan sebelumnya agar bisa menikmati Lamang dan teman-temannya. Tak elok, kata Pak Zulfazar bila kita menolak mencicipi makanan yang telah dihidangkan.






20141224(2)
Nasi Kuning dan Ikan Haruang yang lezat dan gak cukup satu kalau makan. Lamang, Telur asin dan Saus Kacang yang bikin lidah bergoyang
Saya ternyata menyukai hidangan ini, kehadiran telur asin mengurangi cita rasa manis yang hadir dalam saus kacang. Lamang gurih berpadu dengan asin dari telur yang masir itu serta manis dari saus kacang jadi perpaduan yang unik di lidah. Halim saja sampai menyesal tidak membawa telur asin itu sebagai oleh-oleh. Andai perut saya tidak terlanjur penuh, ingin rasanya bisa makan lebih banyak.
Kalau menyitir kalimatnya Mbak Evi Indrawanto sih, hidangan ini membuat lidah saya bergoyang, aisshhh. Tak percaya, datang deh ke Kandangan. @ Sumber : http://ayopelesiran.com
PC120401
Diberdayakan oleh Blogger.