Bertempat diruang Pendopo Bupati Hulu Sungai Selatan,Minggu 28 Januari 2018,dilaksanakan kegiatan Haul Datu Hamawang serta Silaturrahim keluarga zuriat Datu Hamawang.
Kegiatan ini merupakan agenda tahunan para zuriat untuk mengenang kembali jasa dan perjuangan datu mereka yaitu Datu Hamawang dalam menegakkan syiar islam di Hulu Sungai Selatan pada zamannya,serta kegiatan ini dalam rangka meningkatkan silaturrahim antara sesama zuriat yang selama ini sudah banyak bermukim diluar Hulu Sungai Selatan,dan Alhamdulillah dalam kegiatan ini telah dihadiri oleh ribuan para zuriat se Kabupaten Hulu Sungai Selatan,dan dari luar daerah,bahkan ada yang datang dari Jakarta.
Bupati Hulu Sungai Selatan Drs. H,Achmad Fikry, M.AP yang merupakan bagian dari keluarga atau zuriat datu hamawang,pada kegiatan ini beliau menjadi sahibul bait atau tuan rumah dalam kegiatan ini,Haji Achmad Fikry berharap kepada seluruh keluarganya para zuriat datu hamawang agar senantiasa selalu menjaga nama baik datu hamawang,baik itu dibidang ke agamaan,pemerintahan dan di masyarakat,karena terbukti keturunan dari datu hamawang banyak dari kalangan ulama dan pejabat pemerintah,oleh karena itulah bupati juga mengharapkan,dengan adanya kegiatan seperti ini,agar selalu dilanjutkan kedepannya untuk terus menyambung tali silaturrahim sesama zuriat dan keturunan datu hamawang.
Kegiatan dengan tema “Batamu badapat gasan mamisiti jaratan keluarga zuriat datu hamawang” ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati serta Ketua DPRD hulu Sungai Selatan, Prof. H.Kustan Basry ( Rektor Unlam Banjarmasin) Ketua IKK HSS Haji Amin Santang,Haji Ali Mahdini,dan para Alim Ulama para Zuriat Datu Hamawang.
SEKILAS TENTANG DATU HAMAWANG.
Sekitar tahun 1800 masehi,ada seorang tokoh yang berdiam dibanua hamawang,seorang pangeran keturunan raja banjar pangeran sukarama bernama pangeran kacil,yang kemudian di angkat oleh kerajaan banjar mengepalai banua hamawang tersebut dengan diberi gelar Temanggung Raksa yudha,oleh masyarakat beliau dikenal sebagai datu hamawang (pemimpin banua hamawang)atau biasa juga disebut Datu Bungkul,karena keseharian belia yang membawa parang bungkul,adik beliau yang yang selalu mendampingi yang bernama Antaluddin yang juga dikenal sebagai datu tambunan,beliau juga punya seorang adik perempuan yang bernama ratu kumala sari,yang kemudian kawin dengan habaib yang bernama datu basuhud,ratu kumala sari dikenal juga sebagai datu ibuk atau datu salayan,ipar datu hamawang yang babaib inilah yang mengajarkan agama islam pada keluarga beliau,sehingga selain memimpin pemerintahan beliau juga adalah seorang pemimpin agama beliau juga membangun sebuah masjid yang pertama dibanua hamawang yang diberi nama masjid QUBA,disekitar masjid inilah beliau jadikan sebagai pusat pemerintahan,pusat pertahanan dan pusat penyebaran agama islam .
Diberdayakan oleh Blogger.